Jumat, 12 September 2008

Generasi Pemakai Produk

Untuk mengetahui karakteristik konsumen Indonesia saat ini penting untuk dipahami perubahan-perubahan tertentu yang telah terjadi selama beberapa dekade terakhir. Selama itu pula berkembang generasi konsumen yang berbeda dengan selera serta karakter bermacam-macam yang menentukan perilaku dalam membeli suatu produk tertentu dengan spesifik tertentu pula. Dari satu generasi ke generasi berikutnya mengalami suatu perubahan yang lebih banyak disebabkan oleh lingkungan luar seperti sosial budaya, ekonomi makro, politik, keamanan dan berbagai aspek lainnya yang ikut berperan. Jumlah generasi pertama di Indonesia jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan generasi berikutnya, hal ini karena penduduk Indonesia senantiasa berkembang dari waktu ke waktu yang kelak menciptakan generasi-generasi penerus penggantinya.

Generasi Mature ( Umur ≥ 62 Tahun)

Didominasi oleh konsumen yang hidup sebelum hingga tahun 1945 dimana kondisi ekonomi, sosial, politik sedang kacau. Generasi ini sering disebut juga dengan generasi pejuang kemerdekaan, sehingga kecenderungannya adalah mempertahankan hidup dalam keadaan susah untuk bisa makan. Ciri khas lain adalah sangat menjunjung tinggi nilai moral, adat istiadat dan masyarakatnya masih bersifat feodalis. Pengaruh kebudayaan yang berkembang adalah budaya eropa yang dibawa oleh Belanda seperti bahasa, musik klasik, gaya hidup ningrat dan aturan / hukum.

Situasi ini membentuk karakter yang keras, hemat, prihatin dan sangat teliti dalam memilih produk. Pasar masih sangat tradisional, karena kebutuhan hidup belum sebanyak saat ini, dimana fokus hanya untuk kebutuhan primer saja. Sistem jual beli tidak sepenuhnya dengan uang namun barter sangat marak pada waktu itu. Pendapatan tidak ada yang pasti, barang mewah dan kegiatan hiburan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil kelompok masyarakat yang beruntung.
Generasi Baby Boomer (Umur 42 – 61 Tahun)

Generasi ini hidup di tahun 1946 hingga 1964 sebagai pendobrak kebijakan ekonomi di Indonesia dimana pada saat itu ekonomi sangat labil dengan kebijakan selalu berubah membuat masyarakat menderita hingga timbul kesenjangan makin besar antara lapisan atas dengan rakyat kecil. Di sisi lain bangsa Indonesia mulai menata kondisi di sektor lain khususnya kondisi politik dan keamanan. Generasi ini adalah generasi determinasi yang merubah aturan dan kebijakan yang didominasi oleh hukum bangsa penjajah. Aspek sosio kultural terpengaruh oleh masuknya budaya barat, seperti musik rock’n’roll, kebebasan bergaul, heroik, bangga akan pendidikan dan berjiwa sosial tinggi.

Memiliki ciri khas masyarakat yang tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya namun lebih berpendidikan sehingga lebih kritis dalam pemilihan produk, tidak mudah puas dan selalu berdasarkan fakta yang ada. Kebutuhan primer masih merupakan fokus pada saat itu ketimbang kebutuhan sekunder dan tersier yang hanya dinikmati oleh para pejabat tertentu.

Generasi X (Umur 28 – 42 Tahun)

Berkembang pada tahun 1965 hingga 1979 dimana orde lama yang dipimpin oleh Ir. Soekarno digantikan orde baru yang dipimpin oleh Soeharto karena dipicu oleh peristiwa G30S/PKI. Era pembangunan mulai dicanangkan soeharto di berbagai sektoral dengan membuka seluas-luasnya investasi asing untuk mempercepat pembangunan. penambahan modal pembangunan dilakukan dengan pinjaman dana dari luar negeri. Hal ini sangat berpengaruh baik pada kondisi ekonomi, lapangan kerja semakin terbuka luas. Ciri khas masyarakat suka berinvestasi dengan menabung di bank, sangat bangga karena bekerja pada suatu perusahaan besar, tipikal pemimpin, senang bekerja sama, selalu mengembangkan diri dengan pelatihan dan pendidikan hingga muncul calon pemimpin baru yang kreatif, tidak terikat gender dan tumbuh jenis sosio-kultur baru yang paling mencolok adalah muncul berbagai jenis media cetak maupun elektronik yang menyebabkan pertukaran informasi lebih cepat.

Masyarakat dapat mencukupi kebutuhan hidupnya mulai dari kebutuhan primer hingga kebutuhan mewah. Hal ini diiringi dengan pasar mulai merebak di setiap daerah di Indonesia. mengutamakan keluarga dengan memenuhi kebutuhan pangan-sandang-papan, pencarian informasi di berbagai media cetak (koran-majalah-jurnal), bangga akan pendidikan tinggi, konsumen kreatif-fleksibel-demanding dan menyukai seseuatu atau ide yang baru. Generasi ini sudah mulai mengenal budaya konsumen ditandai tumbuhnya pasar retail modern seperti supermarket atau mini market modern di Indonesia.
Generasi Y (Umur 13 – 27 Tahun)

Generasi ini hidup di tahun 1980 sampai dengan 1994 memiliki ciri khas sangat menyukai kesibukan dimana sebagian besar waktunya digunakan untuk melakukan seseuatu yang disukai, berkembang dengan belajar langsung dari lapangan, senang bersosialisasi / saling membantu, tidak mudah puas, informasi kebanyakan didapat dari internet karena lebih cepat serta efisien,...

Kebutuhan semakin banyak tersegmentasi-spesifik, mulai mengedepankan gaya hidup sebagai salah satu kebutuhan, ingin tampil berbeda, kebarat-baratan, mayoritas senang memamerkan kelebihannya dan cenderung boros. Berkembangnya pasar retail dengan modal menengah, menggerus warung dan toko kecil yang tidak cukup modal hingga terbentuk pola berbelanja
menyukai kebebasan dalam bertindak dan tidak ingin terkekang, sensitif dengan isu global baik dalam maupun luar negeri, Generasi ini merupakan pencetus dari ide-ide alternatif baru yang lebih segar dan sebagai motor penggerak perkembangan informasi tanpa batas dari segala media khususnya internet kabel maupun non-kabel. Pelaku bisnis selalu mengandalkan informasi terbaru dan seakurat mungkin untuk menjalankan operasinya di supermarket dan mini market atau toko-toko yang besar karena dianggap dapat memenuhi kebutuhan konsumen (lebih lengkap).
Generasi Z (Umur 0 – 12 Tahun)

Generasi ini hidup di tahun 1994 hingga sekarang yang dimulai dengan tumbuhnya demokrasi di segala bidang seiring dengan jatuhnya kekuasaan Soeharto di tahun 1998. Kebebasan untuk mengutarakan pendapat, bertindak, bersosialisasi tidak dapat dibatasi yang didukung dengan kemajuan teknologi canggih yang semakin pesat, pertukaran informasi jauh lebih hebat, cepat dan murah dibandingkan pada era sebelumnya. Hal ini membuat masyarakat harus bergerak sangat cepat jika tidak ingin kalah dalam persaingan global. Sistem informasi yang terintegrasi melalui jaringan tidak dapat dielakkan sehingga kaum muda banyak yang memilih profesi di bidang ini karena prospek kedepannya sangat menjanjikan.

Pasar retail modern seperti indomaret, alfamart, superindo berkembang pesat hingga daerah terpencil. Perkembangan pasar juga semakin cepat dan tersegmentasi, iklan usaha tidak hanya dengan media koran, tv, radio ataupun flyers tetapi semakin marak menggunakan internet hingga proses transaksi jual beli barang ataupun jasa bahkan rekrutmen tenaga kerja dilakukan dengan internet. Pembayaran untuk suatu transaksi tertentu sudah menggunakan kredit card, debit card atau transfer melalui bank tanpa repot membawa uang tunai.

Demografi

Demografi

Secara kependudukan Indonesia merupakan negara yang memiliki populasi terbesar keempat di dunia yaitu sekitar 234.693.997 jiwa (2008) dengan kepadatan penduduk 123.230 jiwa/km2. Dari sekian ribu pulau tersebar di Indonesia, pulau Jawa merupakan pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia yaitu hampir 58% penduduk tinggal di pulau ini dan Jakarta merupakan ibukota negara, mencakup wilayah administrasi DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Serang dan Karawang atau sering disingkat dengan Jabodetabek. Memiliki populasi penduduk sekitar 14.500 jiwa/km2 dan secara akumulasi berjumlah +/- 8.8 juta jiwa bertempat tinggal di daerah ini. Selain Jabodetabek, wilayah lain yang juga memiliki kepadatan penduduk tertinggi antara lain adalah Jawa Barat dan Jawa Timur. Untuk wilayah lainnya cenderung menurun karena banyak penduduk yang memilih urbanisasi yang disebabkan lapangan pekerjaan lebih terbuka luas di perkotaan besar hingga kepadatan penduduk akan terpusat di kota-kota besar saja. Peluang usaha atau investasi diprediksikan akan lebih baik mengarah pada daerah perkotaan sebagai pusat bisnis seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Padang dan lainnya untuk memulai suatu usaha baru atau daerah pemasaran suatu produk.

Rabu, 18 Juni 2008

Perkembangan Industri Sepeda Motor Indonesia

Perkembangan industri otomotif di Indonesia sangat cepat dan cenderung meningkat tiap tahunnya, seiring dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat akan sarana transportasi yang memadai. Hal ini dipicu oleh perkembangan jaman yang menuntut manusia untuk bisa bergerak lebih mudah dalam mencapai tujuan dalam aktivitas kesehariannya. Kondisi pada saat ini jumlah transportasi publik sangat tidak mencukupi kebutuhan masyarakat dan beberapa faktor lainnya seperti minimnya keamanan, tidak tepat waktu, tidak laik pakai serta kurangnya kenyamanan angkutan publik tersebut. Hal ini mendorong masyarakat untuk membeli dan menggunakan alat transportasi pribadi ketimbang menggunakan jasa angkutan umum.

Permintaan pasar akan kendaraan bermotor yang sedemikian tingginya, dihadapi para produsen otomotif baik sepeda motor maupun mobil untuk saling berpacu mendapatkan produk yang mampu memenuhi seluruh permintaan calon pembeli. Secara umum antara lain adalah faktor keamanan, kualitas produk, hemat bahan bakar, praktis penggunaannya, kenyamanan berkendara, kelanggengan produk dan yang terpenting adalah harganya harus terjangkau masyarakat. Namun seiring perkembangan jaman, permintaan tersebut melebar hingga menciptakan segmen baru dalam masyarakat, sebagai contoh produk utama harus dilengkapi dengan teknologi mesin lebih besar, model gagah, ruang lebih besar dan nyaman, mengedepankan kemewahan walaupun harganya lebih mahal. Semua tantangan ini harus dijawab cepat, baik dan tepat bagi produsen otomotif di Indonesia jika ingin tetap eksis dalam menjual produk dan selalu menguntungkan.

Dari sisi penjualan kendaraan bermotor secara umum mulai mengalami penurunan pada semester II tahun 2005, hal ini disebabkan karena pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak dalam negeri sebab subsidi yang diberikan sudah terlalu besar sedangkan harga minyak dunia semakin melonjak terus. Imbasnya adalah harga kebutuhan pokok melambung tinggi sehingga masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Pada semester I tahun 2006, para produsen mengalami dilema karena tidak bisa menaikkan harga jual yang disebabkan kondisi ekonomi makin tidak menentu dan pada saat itu penjualan mengalami penurunan yang luar biasa selama 10 tahun terakhir. Akhir semester II tahun 2006, kondisi mulai berangsur dengan banyaknya produsen mulai mempersiapkan beberapa model terbarunya dan munculnya beberapa merek baru masuk ke pasar Indonesia. Di tahun 2007 peningkatan jumlah penjualan terjadi cukup signifikan dengan banyaknya merek yang bersaing membuat para produsen berlomba-lomba dalam mempromosikan produknya dan didukung oleh kondisi ekonomi-politik cukup stabil.

Salah satu faktor pengambilan keputusan untuk membeli jenis kendaraan bermotor bergantung pada kebiasaan masyarakat menghadapi rute jalan setiap harinya, dimana pada saat ini panjang dan luasnya jalanan di Indonesia tidak sebanding dengan bertambahnya pengguna kendaraan. Sehingga hampir setiap hari kita menemui kemacetan dan keruwetan mulai dari pagi hari hingga sore hari khususnya di kota-kota besar. Masyarakat semakin cenderung melihat tingkat kepraktisan, hemat bahan bakar dan waktu sampai tujuan sebagai faktor yang terpenting saat ini. Mayoritas akan memilih sepeda motor dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan mobil, karena dirasakan dapat menjawab tantangan yang ada sekarang ini. Bahkan kecenderungan baru disinyalir banyak pengguna mobil yang beralih ke sepeda motor karena faktor ekonomi Indonesia yang semakin tidak menentu dan menekan rakyat. Masyarakat juga merasakan kemudahan dalam pembelian sepeda motor di Indonesia dimana hampir 75% -80% diantaranya merupakan peran serta dari perusahaan pembiayaan (leasing) kendaraan bermotor dan beberapa bank penjamin kredit. Sistem ini sangat membantu masyarakat untuk memiliki sepeda motor pribadi secara cepat walaupun dengan bunga kredit yang tinggi hingga 30%. Sepeda motor diprediksi akan menjadi tren dan kebiasaan baru masyarakat yang akan terus berkembang seiring dengan isu mahalnya bahan bakar, kemacetan dan waktu jelajah di Indonesia.

Senin, 16 Juni 2008

Welcome to Antony's World

Dear Friends,

Selamat Datang di Blog Antony Rahardi

Puji Syukur kepada Tuhan YME yang telah mengijinkan kami untuk memulai Blog ini yang mana diharapkan, rekan-rekan dapat memberikan komentar, saran atau tulisan ilmiah mengenai industri otomotif di Indonesia dengan konsep kajian dari berbagai teori mengenai pemasaran.

Semoga dengan adanya Blog ini, kita dapat saling memberikan ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia di bidang otomotif khususnya

With Regards,

Antony Rahardi