Kamis, 15 Oktober 2009

Daya Beli


Daya beli masyarakat selalu berkaitan erat dengan tingkat pendapatan pada kelompok strata masyarakat tertentu. Dari penggolongan status sosial dan ekonomi, maka di Indonesia dapat dibedakan menjadi 3 bagian besar yaitu strata bawah, menengah dan atas. Mayoritas populasi penduduk Indonesia adalah tingkat menengah, dimana tingkatan ini dapat dibedakan menjadi menengah keatas dan kebawah. Semakin berkembangnya jaman, kelompok ini cenderung berubah dari menengah menjadi lapisan bawah yang kondisinya semakin buruk karena tidak dapat menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah di sektor ekonomi. Lalu lapisan atas cenderung bertahan dan semakin menguatkan posisi pada tingkatannya karena adanya kesempatan untuk melakukan hal tersebut yang berdampak timbulnya kesenjangan hingga banyak menimbulkan gejolak negatif di masyarakat.
Selain dari tingkat pendapatan masyarakat, indikator dari daya beli dan pengukuran status sosial-ekonomi dapat juga dilihat dari tingkat belanja rumah tangga bulanan yang didefinisikan sebagai pembelanjaan produk dan jasa sehari-hari. Sebagai contoh pengeluaran rutin untuk rumah tangga antara lain makanan, listrik, air pam, telepon, iuran wajib RT/RW, transportasi umum, produk pencuci/pembersih, biaya anak sekolah dan lain sebagainya. pada saat ini kenaikan harga bahan pokok primer dan bahan bakar berdampak pada daya beli masyarakat akan semakin merosot jatuh. Pengukuran daya beli tersebut tidak termasuk pembelian besar seperti mobil, sepeda motor, rumah dan beberapa barang tersier untuk gaya hidup karena karakter pembelian produk tidak dapat diprediksikan. Namun pada saat ini untuk kendaraan bermotor terjadi pergeseran karakter kebutuhan yang sebelumnya hanya additional berubah menjadi primary sehingga tidak dapat dihilangkan dan cenderung akan berkembang terus. Terkait daya beli yang semakin rendah, kebutuhan transportasi tersebut dipenuhi dengan membeli secara kredit di dealer dengan menggunakan jasa credit company.